seputarankita.com – Aktivitas seismik di zona sesar aktif Jawa Barat kembali meningkat. Dalam kurun waktu satu malam, dua guncangan gempa bumi tektonik berkekuatan magnetudo rendah namun berkedalaman dangkal mengguncang wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sukabumi, Sabtu (28/3/2026) dini hari.
Meski tidak berpotensi tsunami, getaran yang bersumber dari darat ini sempat memicu kekhawatiran warga di beberapa titik pusat guncangan.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), rentetan getaran dimulai dari wilayah Bandung pada pukul 00.55 WIB. Gempa berkekuatan M 2,0 tersebut berpusat di darat, tepatnya di koordinat 7.97 LS – 107.07 BT, Barat Daya Kabupaten Bandung.
Hanya berselang sekitar satu jam, tepat pukul 02.08 WIB, giliran wilayah Sukabumi yang diguncang gempa berkekuatan M 2,1. Episenter gempa terletak pada koordinat 7,88 LS – 106,83 BT, atau sekitar 115 Km Selatan Kabupaten Sukabumi dengan kedalaman sangat dangkal, yakni 10 Km.
Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang, Hartanto, mengonfirmasi bahwa rentetan gempa ini merupakan jenis gempa bumi dangkal. Khusus untuk wilayah Sukabumi, getaran dipicu oleh aktivitas Sesar Cimandiri, salah satu patahan aktif paling diwaspadai di Jawa Barat.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif,” jelas Hartanto dalam keterangan resminya.
Sesar Cimandiri sendiri merupakan jalur patahan yang membentang dari muara Sungai Cimandiri di Pelabuhanratu, melintasi Sukabumi, hingga ke wilayah Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
Meskipun magnitudonya tergolong kecil, kedalamannya yang dangkal membuat getaran dirasakan cukup nyata di permukaan tanah. Skala intensitas tertinggi tercatat di wilayah Nyalindung dengan skala IV MMI (getaran dirasakan banyak orang di dalam rumah, jendela/pintu berderik).
Beberapa wilayah lain seperti Kabandungan, Palabuhanratu, hingga Cianjur dan Bogor, merasakan getaran pada skala II hingga III MMI. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat dua kejadian gempa tersebut.
BMKG mengingatkan bahwa gempa dangkal (kedalaman <60 km) memiliki risiko destruktif yang lebih tinggi meski dengan magnetudo kecil, karena energi dilepaskan sangat dekat dengan permukaan tanah. Belajar dari kasus Gempa Cianjur (Sesar Cugenang) pada akhir 2022, masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada.
“Pastikan informasi hanya berasal dari kanal resmi BMKG. Jangan mudah percaya pada isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” pungkas Hartanto.(Bim)





