seputarankita.com – Ribuan warga Bali tumpah ruah ke jalan-jalan utama pada malam Tawur Agung Kesanga, sehari sebelum Hari Raya Nyepi, untuk mengikuti tradisi Ogoh-Ogoh, pawai boneka raksasa yang melambangkan kekuatan jahat dan sifat buruk manusia.
Tradisi Ogoh-Ogoh telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Bali, khususnya dalam rangkaian upacara menyambut Tahun Baru Saka. Boneka-boneka raksasa ini dibuat dengan rangka bambu dan bahan ringan lainnya, dihias menyerupai wujud-wujud mengerikan seperti raksasa, iblis, atau tokoh mitologis.
“Ogoh-Ogoh melambangkan Bhuta Kala, energi negatif yang harus diusir agar keseimbangan alam dan spiritual tetap terjaga,” ujar I Wayan Sudarsana, seniman pembuat Ogoh-Ogoh asal Gianyar
Menjelang pawai, Ogoh-Ogoh dipersiapkan selama berminggu-minggu oleh anak-anak muda desa adat (sekaa teruna). Proses kreatif ini sekaligus menjadi ajang gotong royong, adu seni, dan pembentukan karakter generasi muda.
Saat malam pawai, Ogoh-Ogoh diarak keliling desa dengan iringan gamelan baleganjur, teriakan massal, dan atraksi teatrikal yang menggambarkan pengusiran roh-roh jahat. Setelah diarak, boneka raksasa tersebut dibakar sebagai simbol pemusnahan sifat negatif.
Gubernur Bali I Wayan Dira menyebut tradisi Ogoh-Ogoh sebagai warisan budaya tak benda yang tidak hanya sakral, tetapi juga berperan besar dalam pendidikan moral dan spiritual masyarakat.
“Ini bukan sekadar tontonan wisata, tapi proses pembersihan diri dan alam semesta menjelang hari suci,” ujarnya.
Meski bersifat tradisional, Ogoh-Ogoh juga telah beradaptasi dengan isu modern. Beberapa Ogoh-Ogoh dibuat menyerupai tokoh politik, figur publik, atau representasi dari permasalahan sosial dan lingkungan, menjadi media kritik yang kreatif.
Pawai Ogoh-Ogoh juga menjadi daya tarik pariwisata internasional. Ribuan wisatawan memadati Bali setiap tahun untuk menyaksikan kemegahan dan spiritualitas unik dari tradisi ini. Ay





