Sains  

Temuan Artefak Batu Dakon Prasejarah, BRIN dan Museum Prabu Siliwangi Gelar Penelitian dan Seminar Lanjutan

Temuan Artefak Batu Dakon Prasejarah, BRIN dan Museum Prabu Siliwangi Gelar Penelitian dan Seminar Lanjutan
Sebuah Penemuan Penting Diungkap oleh Gabungan Tim Arkeolog BRIN dan Museum Prabu Siliwangi di Gunung Tangkil, Pelabuhan Ratu. Mereka Menemukan Artefak Batu Dakon yang Tertanam di Puncak Kedua Gunung Tangkil / FT: UM

seputarankita.com – Sebuah temuan penting berhasil diungkap oleh gabungan tim arkeolog BRIN dan Museum Prabu Siliwangi di Gunung Tangkil, Pelabuhan Ratu. Mereka menemukan artefak Batu Dakon yang tertanam di tanah di puncak kedua Gunung Tangkil.

Batu Dakon ini adalah batu prasejarah yang memiliki makna dan fungsi penting, yaitu sebagai alat perhitungan dan kalender khususnya dalam praktik pertanian pada masa prasejarah serta sebagai tempat pemujaan dalam tradisi megalitik dan setelah masuknya agama tertentu.

Pimpinan Ponpes Modern Dzikir Al-Fath, KH. Fajar Laksana, artefak ini telah berhasil diselamatkan untuk disimpan dan diamankan di Museum Prabu Siliwangi.

Menurut para arkeolog, temuan ini berpotensi menjadi salah satu temuan besar karena luasnya area yang diduga terkait, bahkan disebut sebanding dengan skala temuan Gunung Padang, Kamis, 29 Mei 2025.

Lanjut Fajar, rencananya, hasil observasi awal akan diseminarkan pada Jumat, 30 Mei 2025 pukul 13.00 WIB di Museum Prabu Siliwangi sebagai bahan awal untuk penelitian lanjutan. Para wartawan dan pihak terkait diharapkan hadir, karena para arkeolog menilai temuan ini sangat berharga.

“Selain itu, hari yang sama juga berlangsung penelitian BRIN tahap 4 di Museum Prabu Siliwangi, yang berfokus pada tiga bagian penting, yaitu: survey lokasi benda batu dan fosil temuan Museum Prabu Siliwangi, penelitian keramik, serta penelitian naskah kuno,” ujarnya.

Lokasi yang telah dikunjungi dalam rangkaian penelitian ini adalah Gunung Karang, Gunung Tangkil, dan Desa Tugu. Sedangkan target kunjungan ke Gunung Tanjung belum dapat dilaksanakan karena keterbatasan waktu.

Penelitian terhadap keramik mencakup berbagai aspek penting, mulai dari menentukan kapan dan di abad berapa keramik itu dibuat, dari mana asalnya, apa fungsi awalnya, hingga makna simbol-simbol dan gambar yang tertera.

BACA JUGA:  Pesawat Antariksa Kosmos 482 Berpotensi Jatuh di Indonesia pada 10 Mei 2025

Selain itu tuturnya, para ahli juga memeriksa bahan pembuatan, jenis, bentuk, ukuran, serta menghitung berapa jumlah keramik yang diteliti.

Sementara itu, penelitian terhadap naskah kuno berfokus pada bahan atau media naskah, bentuk tulisannya, usianya, isi tulisannya, serta jenis dan jumlah keseluruhan koleksi naskah kuno di museum.

Penelitian tahap 4 ini berlangsung selama empat hari, dari 27 Mei hingga 30 Mei 2025, dengan melibatkan lima pakar BRIN, yaitu: ahli prasejarah masa paleolitik, ahli prasejarah masa megalitik, ahli prasejarah lingkungan, ahli sejarah masa Hindu-Buddha dan keramologi, serta ahli naskah kuno.

Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis berbagai temuan yang ada di museum dengan memperhatikan lokasi asalnya, memperdalam pemahaman terkait keramik, serta mengungkap informasi penting dari koleksi naskah kuno.

Temuan Batu Dakon di Gunung Tangkil ini menarik perhatian karena bukan hanya sekadar artefak, tetapi juga menyimpan jejak peradaban masa lalu yang penuh misteri.

Para ahli menilai, lubang-lubang pada permukaan batu tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan alat penting untuk menghitung waktu, mencatat musim, dan bahkan sebagai media ritual pemujaan.

Tak heran jika lokasi temuan ini dianggap sakral oleh masyarakat sekitar, yang selama ini mungkin belum sepenuhnya menyadari nilai sejarahnya.

Semangat para peneliti BRIN dalam penelitian tahap 4 ini begitu besar, mengingat Museum Prabu Siliwangi menyimpan banyak potensi temuan berharga lainnya.

Pada bagian lain dia mengatakan, selain batu dakon, koleksi keramik kuno dan naskah-naskah tua di museum menjadi fokus penting karena dapat membuka tabir peradaban masa Hindu-Buddha hingga masa-masa setelahnya.

Proses analisis tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi juga melibatkan pemahaman lapangan: menelusuri lokasi asal temuan, mencatat detail bentuk dan simbol, hingga membandingkan dengan temuan serupa di wilayah lain.

BACA JUGA:  Penemuan Pulau Bawah Laut di Dekat Rio Grande: Cadangan Unsur Tanah Jarang untuk Masa Depan Teknologi Hijau

Kerja sama antara tim arkeolog, pihak museum, dan masyarakat lokal menjadi salah satu kekuatan utama dalam penelitian ini.

Dukungan warga sekitar untuk menjaga lokasi temuan, serta peran media dalam menyebarluaskan informasi, diharapkan dapat mendorong perhatian yang lebih luas dari pemerintah maupun pihak akademis.

“Bagi para peneliti, setiap batu, keramik, atau naskah kuno bukan hanya benda mati, melainkan saksi bisu perjalanan panjang sejarah manusia di Nusantara yang wajib dilestarikan untuk generasi mendatang,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *