seputarankita.com – Pengembangan ekonomi kreatif di Kota Sukabumi dinilai belum bergerak signifikan karena minimnya keterlibatan langsung pemerintah daerah.
Komisi II DPRD Kota Sukabumi menilai sektor tersebut masih belum mendapat dukungan kebijakan yang konkret dan berkelanjutan.
Anggota Komisi II DPRD Kota Sukabumi dari Fraksi Partai Golkar, Gundar Qolyubi, menyebut ekonomi kreatif di Sukabumi kerap hanya muncul dalam agenda seremonial.
“Kondisi tersebut berpotensi membuat sektor Ekraf stagnan. Padahal yang selalu digembar gembor kan UMKM adalah sektor penyumbang PAD,” kata Gundar, Selasa, 3 Februari 2026.
Gundar membandingkan dengan Kota Depok yang dinilainya berhasil membangun ekosistem ekonomi kreatif secara terstruktur.
Di daerah tersebut, pemerintah berperan aktif menyediakan ruang, fasilitas, serta membuka akses kolaborasi bagi pelaku Ekraf.
Ia menilai Kota Sukabumi sebenarnya memiliki aset dan ruang publik yang memadai, namun belum diarahkan secara optimal untuk mendukung aktivitas kreatif masyarakat.
Selain itu, peran pemerintah sebagai fasilitator kerja sama dengan BUMD dan swasta juga dinilai masih lemah.
Menurut Gundar, tanpa arah kebijakan yang jelas, ekonomi kreatif sulit tumbuh sebagai penggerak ekonomi daerah.
Ia mendorong Pemkot Sukabumi untuk beralih dari pendekatan simbolik menuju program nyata yang mampu mengangkat potensi lokal dan meningkatkan kesejahteraan pelaku Ekraf. UM





