seputarankita.com– Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menyusun buku katalog koleksi keramik Museum Prabu Siliwangi sebagai bagian dari upaya pencatatan ilmiah dan pelestarian artefak bersejarah. Dari total 205 koleksi yang tersimpan di museum tersebut, sebanyak 72 keramik telah melalui proses pemotretan dan pendokumentasian untuk selanjutnya dikurasi berdasarkan nilai sejarah dan daya tarik visualnya.
Ahli Sejarah Masa Hindu-Buddha dan Keramologi BRIN, Yusmaini Eriawati, mengatakan penelitian terhadap koleksi keramik Museum Prabu Siliwangi telah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Menurutnya, keberagaman koleksi yang dimiliki museum tersebut menjadi salah satu keunggulan karena mewakili berbagai periode sejarah dan wilayah asal yang berbeda.
“Setiap keramik memiliki spesifikasi dan periodisasinya masing-masing. Misalnya keramik Eropa yang ada di sini berasal dari abad ke-17 hingga abad ke-19. Selain itu terdapat juga tembikar peninggalan Majapahit berupa celengan yang diperkirakan berasal dari abad ke-14 atau ke-15,” ujar Wati, Rabu (3/6/2026).
Ia menjelaskan, katalog akan disusun berdasarkan masa pembuatan atau periodisasi keramik. Koleksi yang dimiliki Museum Prabu Siliwangi mencakup keramik dari berbagai kawasan dunia, mulai dari Tiongkok, Asia Tenggara, Jepang, Eropa hingga Nusantara.
Keramik Tiongkok yang tersimpan di museum tersebut mewakili hampir seluruh periode dinasti, mulai dari Dinasti Tang, Song Utara, Song Selatan, Yuan, Ming, Qing hingga masa Republik. Selain itu terdapat pula keramik Vietnam dan Thailand, keramik Jepang jenis Satsuma yang tergolong langka dari abad ke-19, keramik Eropa abad ke-17 hingga ke-19, serta tembikar Nusantara dari era Kerajaan Majapahit.

Menurut Wati, sebagian besar koleksi tersebut merupakan peralatan rumah tangga yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari pada masanya. Benda-benda itu diperkirakan masuk ke Nusantara melalui jaringan perdagangan internasional yang berkembang sejak abad pertengahan hingga awal era modern.
“Umumnya keramik yang ada di sini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti piring dan mangkuk. Pada masa itu para pedagang membawa ribuan keramik dalam satu kapal untuk diperdagangkan ke berbagai wilayah di Nusantara,” katanya.
Penyusunan katalog dilakukan BRIN bersama Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. Setelah selesai, buku tersebut akan didaftarkan ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai sumber referensi edukasi sejarah berbasis artefak keramik.
Saat ini tahapan penelitian, pencatatan, dan pemotretan telah diselesaikan di Sukabumi. Selanjutnya, penyusunan uraian sejarah akan dilakukan di Jakarta dan Yogyakarta sebelum memasuki tahap finalisasi yang ditargetkan rampung pada akhir Juli 2026.
Wati berharap katalog tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat, khususnya kalangan akademisi dan peneliti.
“Tujuan kami untuk edukasi. Karena itu kami merekomendasikan dibuatnya katalog dan storyline. Nantinya dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk menyusun makalah, skripsi, maupun penelitian lainnya karena koleksi ini sudah sangat layak menjadi sumber kajian ilmiah,” ujarnya.
Sementara itu, Pendiri Museum Prabu Siliwangi, Prof. KH. Fajar Laksana, menyambut positif penyusunan katalog tersebut. Ia menilai katalog akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan kajian sejarah yang lebih komprehensif.
Menurut Fajar, setelah katalog selesai disusun, pihak museum berencana membuat buku storyline yang tidak hanya menampilkan koleksi benda, tetapi juga menjelaskan konteks sejarah yang melatarbelakanginya.
“Storyline bukan hanya memamerkan barang, tetapi juga menceritakan peristiwa yang terjadi pada masa itu. Kerajaan atau bangsa mana yang datang ke Indonesia dan bagaimana kehidupan masyarakat saat itu bisa dipahami melalui sebatang keramik. Setelah katalog selesai, pekerjaan berikutnya adalah menyusun storyline,” katanya.
Fajar juga mendorong pemerintah daerah untuk mendaftarkan koleksi keramik yang telah ditetapkan sebagai artefak oleh para ahli ke dalam daftar objek cagar budaya. Menurutnya, potensi sejarah yang dimiliki koleksi tersebut dapat menjadi daya tarik baru bagi sektor pariwisata Kota Sukabumi.
“Dengan adanya museum keramik yang telah diteliti dan dinyatakan sebagai artefak, kami berharap Sukabumi memiliki produk wisata unggulan yang mampu menarik kunjungan wisatawan dari dalam maupun luar negeri,” tegasnya.
Ia berharap Museum Prabu Siliwangi tidak hanya berkembang sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan riset yang dapat dimanfaatkan oleh pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga wisatawan dari berbagai daerah dan negara.





