seputarankita.com – Perayaan Hari Nelayan Ke-65 Palabuhanratu menjadi momentum bagi masyarakat nelayan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, untuk meningkatkan rasa syukur kepada sang pencipta atas berkah limpahan rezeki dari hasil tangkapan ikan.
Di balik kemeriahan rangkaian Hari Nelayan Ke-65 Palabuhanratu yang memikat ratusan pasang mata masyarakat dari luar nelayan, terdapat harapan mendalam bagi masyarakat nelayan kepada pemerintah.
Peran nelayan sangat vital di sektor gizi, terutama dalam komoditi perikanan. Sebab itu, nelayan Sukabumi layak menjadi pahlawan gizi sektor perikanan.
Ratusan, bahkan jutaan anak telah mendapatkan asupan gizi seimbang melalui ikan hasil tangkapan nelayan.
Seperti diketahui, hasil ikan nelayan Sukabumi tidak hanya dirasakan oleh warga lokal, tapi juga sampai ke luar daerah seperti Jakarta dan beberapa daerah lain. Bahkan ada yang sampai ke luar negeri.
Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Sukabumi, Dede Ola mengungkapkan, selain sebagai pahlawan gizi, nelayan Sukabumi juga menjadi tolak ukur dalam menjalankan simbiosis mutualisme dengan berbagai elemen masyarakat. Sebab itu, Hari Nelayan Palabuhanratu diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur dan dedikasi kepada para nelayan.
“Itu bentuk manivestasi rasa syukur kita pada Allah, pada sesama manusia, pada alam, terimakasih kita kepada nelayan, ini mungkin dedikasi kepada nelayan yang tidak bisa dipungkiri bahwa mereka itu sebagai pejuang gizi, pejuang devisa, pejuang sircle hubungan simbiosis mutualisme,” ujar Dede Oela, Selasa 27 Mei 2025.
Dede Ola menjelaskan, simbiosis mutualisme yang dijalankan oleh nelayan diantaranya, nelayan menangkap ikan itu memerlukan perahu, dimana perahu yang terbuat dari kayu itu dibeli dari tukang bangunan, termasuk bahan material lainnya.
Bahkan hingga ke pengangkutan ikan sampai ke konsumen pun memerlukan moda transportasi lain, sehingga simbiosis mutualisme oleh nelayan dirasakan semua pihak.
“Mengambil ikan butuh perahu, butuh kayu, butuh paku bahan material, olahannya perlu segala macam, angkutannya segala macam, akhirnya salah satu untuk bentuk wujud simbiosis mutualisme, saling ketergantungan kebutuhan hidup pejuang gizi, penghasil devisa juga, itu reward kami salah satunya dengan adanya syukuran hari nelayan itu, selain tasyakur binikmat juga sebagai reward kepada para nelayan,” ucapnya
Tak hanya soal simbiosis mutualisme antar sesama manusia, keberadaan nelayan juga berpengaruh bagi sektor pariwisata. Dengan digelarnya syukuran hari nelayan, itu dapat memikat wisatawan datang ke Kabupaten Sukabumi, hal itu pun dibuktikan hari nelayan masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Mungkin selanjutnya kan potensi di Kabupaten Sukabumi ini sektor pariwisata, sektor perikanan, efek yang kami lakukan bisa dilihat juga, untuk sektor pariwisata kita tidak beda dengan Bali, ada pantai, pesisir, PHRInya ada hotel, restaurant, domestik luar negeri juga, kalau ini dikemas tata kelola dengan cara bagus ini bisa menjadi salah satu faktor penunjang untuk mengembangkan semua potensi,” ujarnya
Vitalnya peran nelayan dalam sektor gizi untuk tumbuh kembang anak Indonesia, hingga mampu membantu mendongrak kebangkitan ekonomi berbagai sektor. Dede Ola berharap ada apresiasi khusus dari Pemerintah, selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan, pemerintah juga diharapkan menetapkan agenda hari libur nasional pada tanggal 21 Mei yang diperingati sebagai hari nelayan di Palabuhanratu.
“Sebetulnya 21 Mei itu HUT HNSI ke 52 sebetulnya, tapi saya tidak mengekspos mengentalkan terkait HNSI, tapi kepada hari nelayan itu, dulu pernah diajukan hari nelayan itu di 21 Mei pergeseran 6 April, karena musim dan cuaca dan tempat yang tidak memungkinkan digesernya tidak jauh daripada tanggal yang ditentukan oleh nasional, kami berharap 21 Mei ini menjadi agenda nasional sebagai hari nelayan. Seperti hari buruh tanggal merah, banyak hari besar memperingati supaya hari khusus,” Pungkasnya





