‎Ponpes Dzikir Al-Fath Sukabumi Jadi Role Model Pesantren Kontributif Berorientasi Ketenagakerjaan

‎Ponpes Dzikir Al-Fath Sukabumi Jadi Role Model Pesantren Kontributif Berorientasi Ketenagakerjaan
Ponpes Dzikir Al-Fath Sukabumi jadi contoh pesantren modern yang membekali santri dengan keterampilan kerja dan kemandirian ekonomi. FT: Ist

seputarankita.com – Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath Sukabumi terus menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya fokus pada pengajaran agama, tetapi juga aktif dalam dakwah dan pemberdayaan masyarakat.
‎
‎Hal tersebut, diungkapkan langsung oleh Dr. Endi Suhendi, MA selaku Kasubdit Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal Direktorat Pesantren Kementerian Agama RI dalam kunjungannya, baru-baru ini.
‎
‎Dalam kunjungannya ke pesantren yang dipimpin oleh KH. Prof. Dr. Muhammad Fajar Laksana tersebut, Dr. Endi mengapresiasi model pendidikan terpadu yang dijalankan.
‎
‎Menurutnya, Dzikir Al-Fath telah menjadi contoh nyata implementasi tiga fungsi utama pesantren sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019, yaitu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
‎
‎“Pesantren ini bukan hanya tempat ngaji, tetapi juga pusat keterampilan dan kontribusi sosial. Ini seperti plaza pendidikan dan pemberdayaan umat,” ujar Dr. Endi.
‎
‎Salah satu bentuk nyata kontribusi Dzikir Al-Fath adalah program penempatan kerja santri ke luar negeri, yang tidak hanya sekadar mencari nafkah tetapi juga membawa misi dakwah.
‎
‎Pada kesempatan itu, dilakukan pelepasan ratusan santri yang akan bekerja di lima negara yakni Arab Saudi (Mekah dan Madinah), Jepang, Kuwait, Turki, dan Dubai.
‎
‎Menurut KH. Fajar Laksana, santri yang diberangkatkan telah dibekali keterampilan kerja, pemahaman agama, serta kemampuan bahasa asing yang memadai.
‎
‎Mereka bekerja secara legal, resmi, dan difasilitasi dengan sistem pengawasan ketat serta perwakilan di masing-masing negara tujuan.
‎
‎“Mereka ini bukan hanya pekerja, tapi juga duta dakwah. Di Mekah misalnya, mereka bekerja langsung di Masjidil Haram, merawat area thawaf, membersihkan karpet Raudhah, dan sebagainya,” jelasnya.
‎
‎Sejauh ini, sudah lebih dari 150 santri bekerja di luar negeri, dan tahun ini ditargetkan total 1.000 santri akan diberangkatkan setelah mengikuti program pelatihan atau diklat khusus. Bl
‎
‎Bahkan, menurut Prof. Fajar, pihaknya menerima banyak job order dari luar negeri, seperti dari Turki yang meminta 500 tenaga kerja, namun baru bisa dipenuhi 200 orang.
‎
‎Namun, tantangan terbesar dalam program ini bukanlah kurangnya peluang, melainkan kesiapan mental para calon pekerja.
‎
‎“Peluang kerja sangat banyak, tapi mental kerja yang lemah jadi hambatan. Banyak yang tak tahan lebih dari dua bulan. Karena itu sejak SD-SMP, mental kerja dan kewirausahaan harus ditanamkan,” tegasnya.
‎
‎Dalam aspek dakwah, Ponpes Dzikir Al-Fath juga mengirim para santri ke wilayah pelosok dan minoritas, seperti Pulau Buru di Maluku.
‎
‎Di sana, mereka telah melakukan pembinaan selama lebih dari tiga tahun, membina para mualaf dan masyarakat lokal melalui pendidikan serta pendampingan keagamaan.
‎
‎Tidak hanya itu, dalam hal pemberdayaan ekonomi, pesantren ini memiliki unit-unit usaha seperti konveksi, peternakan, pertanian, pabrik tahu, dan pabrik sandal, sebagai laboratorium bisnis yang langsung melibatkan para santri.
‎
‎Program-program ini dijalankan dalam sinergi dengan Kementerian Agama, Dinas Tenaga Kerja, serta instansi terkait, dan telah menjadikan Dzikir Al-Fath sebagai pesantren rujukan nasional.
‎
‎Dr. Endi menyatakan bahwa negara berkomitmen terus hadir mendukung pesantren seperti ini melalui program-program seperti beasiswa santri berprestasi, bantuan inkubasi bisnis, hingga pembukaan akses pendidikan formal yang setara dengan sekolah umum.
‎
‎“Hari ini pesantren sudah diakui sebagai satuan pendidikan formal. Santri bisa langsung melanjutkan kuliah tanpa harus ikut ujian persamaan lagi. Ini bentuk kehadiran negara,” tambahnya.
‎
‎Dengan model integratif seperti ini, Ponpes Dzikir Al-Fath menjadi bukti bahwa pesantren bukan hanya benteng moral umat, tapi juga solusi konkret bagi tantangan sosial-ekonomi bangsa, termasuk pengangguran dan kurangnya tenaga kerja kompeten.

Penulis dan Editor:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *