Belasan Ustadz Garis Depan (UGD 5) dan Da’i 3T Ponpes Dzikir Al-Fath Diberangkatkan ke Pulau Buru Maluku

Sebanyak 11 dari 23 Ustadz Garis Depan (UGD) 5 dan Da'i 3T Ponpes Al-Fath dilepas ke Pulau Buru Maluku untuk Menjalankan Misi Keagamaannya

Seputarankita.com – Sebanyak 11 orang Ustadz Garis Depan (UGD) 5 serta Da’i 3T
Ponpes Dzikir Al-Fath Kota Sukabumi dilepas menuju Pulau Buru Maluku oleh Pj Wali Kota Sukabumi, Kusmana Hartadji dan Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, KH Fajar Laksana di Aula Syekh Quro pada Kamis (9/1/2025)

Melalui kegiatan tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran lebih jelas mengenai upaya Ponpes Al-Fath dalam memajukan pendidikan dan dakwah di Pulau Buru, Maluku. Kegiatan dihadiri Penjabat Wali Kota Sukabumi selatan, Kusmana Hartadji.

K.H Fajar Laksana mengatakan, Ustadz Garis Depan 5 sendiri telah memberikan warna tersendiri dalam membangun infrastruktur keagamaan di wilayah tersebut, termasuk dua masjid dan delapan majelis dzikir, yang kini menjadi pusat kegiatan umat di empat desa, yaitu Desa Dapa, Desa Widit, dan dua desa lainnya.

Dia juga menyampaikan bahwa Ponpes Al-Fath telah berhasil mengembangkan sejumlah inisiatif sosial dan pendidikan yang berdampak langsung pada masyarakat di Pulau Buru.

“Alhamdulillah, di empat desa tersebut sudah didistribusikan dana pembangunan sebesar Rp8,4 miliar, dan Kemenag pusat turut memberikan apresiasi atas usaha ini,” ujarnya.

Selain itu, Ponpes Al-Fath juga telah menampung 92 siswa dari empat desa tersebut, dengan jenjang pendidikan mulai dari SMP hingga Perguruan Tinggi, yang seluruhnya mendapat beasiswa total senilai Rp8,2 miliar.

Program pendidikan yang dicanangkan oleh Ponpes Al-Fath ini tidak hanya terbatas pada pemberian beasiswa, tetapi juga mencakup biaya hidup yang ditanggung penuh oleh pesantren.

Santri yang mendapatkan beasiswa tidak hanya memperoleh pendidikan formal, tetapi juga diajarkan untuk mengembangkan zakat, infak, dan sedekah sebagai bagian dari sistem ekonomi pesantren.

“Kami memberikan fasilitas penuh bagi para santri, termasuk makan dan tempat tinggal gratis. Setelah mereka lulus dan bekerja, mereka diharapkan bisa berkontribusi melalui zakat dan sedekah untuk kelangsungan dakwah dan pendidikan di pesantren ini,” jelas K.H. Fajar.

BACA JUGA:  Pemkot Sukabumi Prioritaskan Ekosistem Hukum Berbasis Humanis

Selain itu, Ponpes Dzikir Al-Fath telah mengembangkan Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) sebagai bagian dari kegiatan sosialnya selama 15 tahun. Dengan bantuan dari 1.500 alumni yang kini tersebar di berbagai negara seperti Jepang, Mekah, Kuwait, dan Turki, pesantren ini berhasil mandiri secara finansial.

“Kami memiliki lembaga yang dikelola oleh alumni, di mana mereka bekerja di luar negeri dan menyisihkan penghasilan mereka untuk disalurkan kembali ke lembaga ZIS dalam sistem ekonomi sedekah,” terangnya.

Ponpes Al-Fath juga menunjukkan sikap inklusif dalam membantu masyarakat, tanpa memandang latar belakang agama. Dalam kesempatan ini, K.H. Fajar menegaskan bahwa mereka tidak membedakan antara umat Islam dan Kristen.

“Kami melihat kebutuhan masyarakat secara objektif. 92 orang yang belajar di sini sebagian besar adalah muallaf, dan ada 20 orang lainnya yang berminat untuk masuk Islam. Kami siap membantu siapa saja tanpa memandang agama,” tegasnya. (UM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *