SeputaranKita.com, SUKABUMI – Angkutan umum (Angkot) jurusan 01 Sukaraja – Kota Sukabumi dan jurusan 04 Goalpara -Kota Sukabumi menggelar aksi mogok.
Penumpang yang kebetulan naik angkutan umum (Angkot) diberhentikan secara paksa di jalan RA Kosasih, tepatnya di Kampung Ngaweng, Kelurahan Cibereumhilir, Kecamatan Cibeureum Kota Sukabumi, Senin (12/08/2024) pagi.
Penurunan penumpang tersebut, terkait adanya aksi mogok jalan kendaraan. Angkutan yang masih beroprasi dari kedua arah itu pun tak luput ikut diberhentikan.
Baik arah dari Kota Sukabumi – menuju Sukaraja. Begitu juga sebaliknya dihentikan sejumlah pengurus organda untuk tidak beroperasi.
Karuan penumpang angkot kecewa campur bingung ketika diturunkan dan terpaksa harus berjalan kaki.
Terpantau, terlihat ada ibu-ibu ada yang langsung menggendong anaknya yang masih kecil ketika diturunkan.
Mirisnya lagi, tampak seorang pria lansia berjalan kaki dari RS Hermina Sukaraja menunuju Kota Sukabumi.
” Saya kecewa, harusnya ada pemberitahuan terlebih dahulu. Kan penumpang jadi kebingungan. Apalagi jarak yang dituju jauh, akhirnya harus berjalan kaki,” kata Asep (45) salah seorang penumpang Angkot Jalur Sukaraja-Sukabumi, kepada awak media. (12/8/2024).
Mau naek angkot tidak ada, mau naek grab tidak punya aplikasi. Saya mau pulang ke Nyalindung lewat Kota biasa naek Angkot,” ucapnya.
kalau dibilang kecewa, lanjut Asep, ya kecewa, apalagi dirinya mengaku baru pulag dari rumah sakit Hermina, harus berjalan kaki.
” Seharusnya, aksi ini jangan menyengsarakan dan merugikan pengguna jasa angkot. Kalau seperti ini, kasihan nasib para penumpangnya,”ketusnya.
Nasib serupa dialami Diana (40 tahun), dirinya berniat berobat menggendong anaknya yang masih kecil ke Puskesmas namun diturunkan paksa padahal jaraknya masih jauh.
“Mau ke puskesmas Sukaraja, bawa anak tapi harus berhenti di sini kan masih jauh,” ucapnya.
Untuk Sampai ke Puskesmas, dirinya terpaksa sewa tukang Ojek untuk mengantarnya.
“Ya ngejar waktu, takut ke puskesmas telat ini mau nyari ojek di depan,” sahut Diana.
Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Usaha (KKU) Angkot Sukaraja – Sukabumi, Ridwan (38 tahun) mengatakan, aksi mogok operasi tersebut meminta adanya pembatasan operasi untuk angkutan online.
“Aksi ini merupakan aksi solidaritas dari angkutan kota. Tujuan kita agar ada pembatasan kendaraan olnile. Kita saling berbagi lah,” ujarnya.
Menurutnya, Pasca banyaknya kendaran berbasis aplikasi online, penghasilan angkutan umum pun jauh berkurang.
“Pendapatan sangat anjlok. Setelah banyak.kendaraan online yang beroperasi. Pendapatan Rp150 ribu itu kotor, belum bensin, belum setor. Dulu waktu ongkos Rp4 ribu pendapatan itu masih tinggi bisa Rp350 ribu,” Singkatn





