Miris, Pelajar di Simpenan ke Sekolah Bertaruh Nyawa Menyeberangi Sungai

Situasi yang Menyayat Hati, Pelajar di Kecamatan Simpenan Terpaksa Harus Membelah Sungai dengan Bertelanjang Kaki untuk Sampai di Sekolah. Mereka Menunggu Uluran Tangan Pemerintah untuk Menstabilkan Keadaan

Seputarankita.com – SUKABUMI – Paska di terjang banjir bandang luapan sungai Cidadap yang terjadi pada Desember 2024 lalu, sejumlah pelajar di Kecamatan Simpenan Kabupaten Sukabumi, harus kembali bertaruh nyawa menyeberangi derasnya arus sungai cidadap tanpa menggunakan jembatan.

Sejumlah pelajar yang berada di wilayah Desa Loji itu, terpaksa harus berenang melawan derasnya arus sungai cidadap untuk bisa sampai ke sekolah yang berada di seberang sungai tepatnya di wilayah Desa Cidadap Kecamatan Simpenan Kabupaten Sukabumi.

Yanyan sugianto salah satu warga Desa Loji menjelaskan, dalam keseharian sejumlah warga yang di dominasi pelajar harus bertaruh nyawa untuk berjuang menyebrangi sungai cidadap, untuk menimba ilmu.

Menurut Yanyan derasnya arus sungai cidadap ini pernah merenggut korban jiwa. pada tahun 2006, ketika seorang ustaz bernama Solihin hanyut terbawa arus saat mencoba menyeberangi sungai yang tampak surut.

“Pritiwa kejadian bermula saat itu Ustaz Solihin dari Pasir Pogor hendak ke Babakan Pendeuy. Tiba-tiba arus sungai membesar, dan beliau terseret hingga jasadnya ditemukan di pesisir laut. Beliau adalah pengelola pondok pesantren,” ujar Yanyan saat ditemui di kediamannya, Selasa (7/1/2025).

Bukan hanya pelajar, ratusan warga setiap hari juga harus menyeberangi sungai untuk menjalankan aktivitas seperti ke kebun, sawah, atau pasar. Sungai ini menghubungkan dua kampung di Desa Loji dan Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan.

“Setiap pagi sekitar pukul 06.00 WIB, anak-anak sudah menyeberang untuk berangkat sekolah. Biasanya, jika orang tua belum ke kebun, mereka akan membantu menyeberangkan anak-anak. Pulangnya pun sama, harus menyeberangi sungai lagi,” jelasnya.

Anyan menjelaskan bahwa kondisi ini diperparah setelah banjir besar pada 4 Desember 2024 lalu yang meluapkan sungai hingga mencapai ketinggian 4 meter. Akibatnya, jembatan penghubung yang baru selesai dibangun oleh relawan Sehati pada September 2024 ambruk diterjang arus deras.

BACA JUGA:  Desa Cijulang Jampangtengah Salurkan BLT DD Jelang Lebaran

“Jembatan itu sebelumnya dibangun oleh relawan, bukan pemerintah. Tapi sekarang sudah hancur lagi pasca-bencana Desember kemarin, sehingga para pelajar dan warga terpaksa menyeberang dengan cara lama,” imbuh Yanyan.

Ia berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan yang kokoh agar aktivitas warga, termasuk pendidikan anak-anak, tidak lagi terganggu. “Kalau ada jembatan, akses ekonomi warga seperti ke pasar atau kebun juga akan hidup kembali,” pungkasnya. Indra Sopyan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *