seputarankita.com – Langkah progresif diambil Pondok Pesantren (Ponpes) Dzikir Al-Fath dalam menjawab tantangan pengangguran di Kota Sukabumi. Melalui program “Mahasantri”, pesantren yang dipimpin oleh KH Fajar Laksana ini berhasil memberangkatkan ratusan tenaga kerja terampil ke mancanegara, mulai dari Timur Tengah hingga Eropa.
Pimpinan Ponpes Al-Fath, KH Fajar Laksana, mengungkapkan bahwa potensi lapangan kerja di luar negeri sebenarnya sangat melimpah. Tahun ini saja, pihaknya menerima pesanan tenaga kerja (job order) sebanyak 3.500 posisi, namun baru bisa memenuhi sekitar 500 orang.
“Problem kita bukan kekurangan job order. Peluang di luar negeri luar biasa banyak dengan gaji yang jauh di atas UMK kita. Tantangannya adalah menyiapkan sumber daya manusia yang siap secara mental dan akhlak,” ujar KH Fajar Laksana saat ditemui di kompleks pesantren.
Yang menarik, Al-Fath menerapkan sistem ekonomi sedekah. Para santri yang ingin bekerja ke luar negeri dilatih secara gratis, mendapatkan fasilitas asrama dan makan cuma-cuma, hingga dibiayai keberangkatannya melalui akses perbankan yang dijaminkan langsung oleh aset pribadi sang kiai.
“Aset saya senilai belasan miliar rupiah saya jaminkan ke bank agar anak-anak ini bisa berangkat. Kenapa saya berani? Karena mereka sudah dididik akhlaknya di pesantren. Setelah sukses, mereka hanya diwajibkan mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah sebesar 2,5 persen dari gajinya untuk membiayai adik-adik kelas mereka berikutnya,” jelasnya.
Gaji yang ditawarkan pun menggiurkan. Untuk wilayah Kuwait dan Dubai, rata-rata mencapai Rp15 juta, Jepang sekitar Rp20 juta, hingga New Zealand yang bisa menyentuh angka Rp50 juta per bulan. Namun, sebelum menjadi tenaga kerja formal, para santri harus melalui tahap magang di Turki atau Mesir untuk menguji kejujuran dan ketahanan mental mereka.
Upaya Ponpes Al-Fath ini mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Kota Sukabumi. Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, menyebut langkah ini sejalan dengan target pemerintah untuk menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Sukabumi yang saat ini berada di angka 8,90 persen.
“Ini luar biasa dan patut menjadi contoh. Pak Kiai tidak hanya mendidik secara agama, tapi memberikan aksi nyata membantu pemerintah mengurangi pengangguran. Total tahun ini sudah ada sekitar 500 mahasantri yang terserap ke pasar kerja global,” kata Bobby.
Bobby menambahkan bahwa pemerintah terus berupaya memfasilitasi keberangkatan tenaga kerja secara resmi melalui kolaborasi dengan kementerian terkait. Selain sektor tenaga kerja, ia juga tengah merancang ekosistem pariwisata yang terintegrasi untuk mendongkrak ekonomi lokal.
Sejalan dengan misi pemberdayaan santri, Bobby Maulana memiliki visi besar menjadikan Kota Sukabumi sebagai destinasi wisata budaya layaknya Bali. Ia berencana menghidupkan pertunjukan seni khas Al-Fath, seperti Maung Bodas dan Boles (Bola Leungeun Seneu), sebagai magnet wisatawan.
“Kita punya potensi besar. Wisatawan yang datang akan kita arahkan untuk melihat pertunjukan budaya di Gedung Akher yang segera kita renovasi. Dengan infrastruktur jalan yang mulai diperbaiki di bulan Mei ini, kita ingin wisatawan nyaman dan ekonomi masyarakat pun berputar,” pungkas Bobby.
Kolaborasi antara kekuatan spiritual pesantren dan kebijakan strategis pemerintah ini diharapkan tidak hanya menurunkan angka kemiskinan, tetapi juga membawa nama harum Sukabumi di kancah internasional melalui para pekerja migran yang berakhlak mulia.(Bim)





