Daerah  

Ayep Zaki Sebut Sukabumi Belum Punya Sentral Kota, Lempar Mimpi Rp3 Triliun untuk Wajah Baru Kota

Kata Walikota Ayep Kota Sukabumi belum memiliki kawasan sentral yang benar-benar menjadi ikon dan pusat aktivitas ekonomi sebagaimana kota-kota besar lainnya/FT: Riri

seputarankita.com – Pernyataan Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki bahwa Kota Sukabumi belum memiliki sentral kota memunculkan pertanyaan besar selama ini sebenarnya di mana pusat Kota Sukabumi?

Di tengah berbagai persoalan perkotaan yang masih dihadapi, Ayep justru melontarkan gagasan ambisius membangun kawasan pusat kota modern terintegrasi dengan nilai investasi yang diperkirakan mencapai Rp2 triliun hingga Rp3 triliun.

Gagasan tersebut disampaikan Ayep usai melantik pengurus Dekranasda Kota Sukabumi periode 2025-2030 di Gedung Dekranasda, Jalan Kenari, Senin (22/6/2026).

Menurutnya, Kota Sukabumi belum memiliki kawasan sentral yang benar-benar menjadi ikon dan pusat aktivitas ekonomi sebagaimana kota-kota besar lainnya.

“Kita harus punya kota. Sekarang sentral kotanya mana? Kita harus desain. Di situ ada pusat perkantoran, pusat niaga, hotel, mal bahkan apartemen yang terintegrasi dalam satu kawasan,” ujar Ayep.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah tengah menyiapkan konsep besar perubahan wajah Kota Sukabumi dalam 10 tahun mendatang.

Ayep menilai keberadaan kawasan pusat kota yang terintegrasi bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut identitas daerah dan daya saing ekonomi.

Ia membayangkan sebuah kawasan yang menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, jasa hingga hunian modern dalam satu titik yang terhubung.

Namun mimpi besar itu tentu tidak murah. Ayep mengakui kebutuhan investasi untuk mewujudkannya bisa mencapai angka fantastis.

“Kalau hanya Rp100 miliar sampai Rp200 miliar, itu mah perumahan saja. Untuk membangun kawasan kota yang terintegrasi, investasinya bisa mencapai Rp2 triliun sampai Rp3 triliun,” katanya.

Besarnya angka investasi tersebut berpotensi memunculkan perdebatan publik. Di satu sisi, konsep sentral kota modern dinilai dapat menjadi motor ekonomi baru. Namun di sisi lain, masyarakat juga akan mempertanyakan lokasi pembangunan, sumber investasi, hingga dampaknya terhadap kawasan kota yang sudah ada saat ini.

BACA JUGA:  Pemilu 2024 Dievaluasi, Wali Kota Sukabumi Bertemu KPU RI

Meski demikian, Ayep menegaskan fokus pemerintah saat ini belum pada pembangunan fisik, melainkan penyusunan desain dan arah pembangunan jangka panjang.

“Minimal kita bermimpi dulu. Kita desain untuk 10 tahun ke depan. Ini bukan pekerjaan jangka pendek,” tegasnya.

Pernyataan “kita harus punya kota” menjadi kalimat yang paling menyita perhatian. Sebab, bagi sebagian kalangan, pernyataan itu dapat dimaknai sebagai kritik bahwa Kota Sukabumi selama ini belum memiliki pusat aktivitas perkotaan yang mampu menjadi simbol kemajuan dan identitas daerah.

Selain mengungkapkan gagasan pembangunan sentral kota modern, Ayep juga memberi perhatian pada penguatan produk unggulan daerah melalui Dekranasda.

Ia meminta pengurus fokus mengembangkan tiga sektor kerajinan yang dianggap memiliki potensi besar, yakni batik, tas, dan batu.

“Saya minta pengurus mencari dan memperkuat apa yang menjadi unggulan. Ada tiga, yaitu batik, tas dan batu. Tiga ini harus diperkuat agar bisa dikenal lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

Menurut Ayep, pengembangan sektor kerajinan tersebut harus berjalan beriringan dengan rencana pembangunan kawasan industri, ekonomi kreatif dan pariwisata sehingga mampu menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi Kota Sukabumi ke depan.

Kini bola panas ada pada tahap perencanaan. Mimpi membangun sentral kota modern senilai triliunan rupiah telah dilemparkan. Pertanyaannya, apakah Kota Sukabumi siap menyambut wajah baru yang diimpikan Ayep Zaki, atau justru publik akan lebih dulu mempertanyakan urgensi proyek raksasa tersebut di tengah berbagai kebutuhan pembangunan yang masih mendesak?.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *