Dugaan Pelecehan 6 Santriwati Mencuat, Ponpes Milik Dai Kondang di Sukabumi Kini Kosong Ditinggalkan Pemiliknya

Dugaan Pelecehan 6 Santriwati Mencuat, Ponpes Milik Dai Kondang di Sukabumi Kini Kosong Ditinggalkan Pemiliknya
Pondok pesantren di Cicantayan, Sukabumi, mendadak kosong setelah pimpinannya diduga melakukan pelecehan terhadap enam santriwati. FT : Ist

seputarankita.com – Pondok Pesantren (Ponpes) di wilayah Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, kini dalam kondisi kosong tak berpenghuni. Hal ini menyusul mencuatnya dugaan kasus pelecehan seksual terhadap enam santriwati yang diduga dilakukan oleh pimpinan ponpes tersebut, yang dikenal sebagai seorang dai kondang.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Sabtu (14/3/2026) pagi, bangunan ponpes dan rumah pemiliknya tampak sepi. Warga setempat menyebutkan bahwa sang pemilik telah meninggalkan lokasi tak lama setelah kabar dugaan pelecehan tersebut viral di media sosial.

Menurut keterangan salah seorang warga sekitar, pimpinan ponpes tersebut dikabarkan berangkat ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umrah tepat sehari setelah kasus ini menjadi perbincangan publik. Sejak saat itu, aktivitas di dalam ponpes pun terhenti.

“Kabarnya yang bersangkutan berangkat umrah. Setelah itu, ponpes dan rumahnya kosong. Kami benar-benar tidak menduga beliau tersangkut kasus seperti ini,” ujar warga yang enggan disebutkan namanya.

Sosok pimpinan ponpes tersebut sebelumnya dikenal baik oleh masyarakat, bahkan pernah memberangkatkan beberapa warga untuk umrah. Namun, warga mencatat adanya perubahan sikap dalam beberapa tahun terakhir. “Beliau mulai menjadi pribadi yang tertutup sejak muncul informasi-informasi negatif, meskipun kami tidak tahu pasti apa masalahnya saat itu,” tambahnya.

Menanggapi situasi yang memanas, warga setempat berinisiatif membongkar plang merek dan gapura pondok pesantren. Ketua RT setempat berinisial IS menjelaskan bahwa tindakan tersebut diambil berdasarkan kesepakatan warga untuk menjaga nama baik lingkungan serta mencegah aksi anarkisme dari pihak luar.

“Pembongkaran ini dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan atau serangan dari luar yang tidak senang dengan informasi tersebut. Selain itu, bekas area gapura akan dialihfungsikan sebagai akses jalan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU),” jelas IS.

BACA JUGA:  Warga Parungkuda Dikepung Banjir, BPBD Lakukan Penanganan Awal

Meski kebenaran kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan pihak berwajib, IS mengakui bahwa warga merasa terpukul dan malu atas pemberitaan yang beredar.

Hingga saat ini, informasi yang dihimpun menyebutkan terdapat sedikitnya enam santriwati yang menjadi korban dugaan pelecehan seksual. Kasus ini telah menarik perhatian luas dari masyarakat Sukabumi dan tengah menjadi atensi aparat penegak hukum untuk ditindaklanjuti lebih dalam.(Bim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *