Firasat Terakhir Ibu Korban NS dan Catatan Hitam Kekerasan dalam Keluarga

Firasat Terakhir Ibu Korban NS dan Catatan Hitam Kekerasan dalam Keluarga
Di balik kematian tragis NS di Jampangkulon, sang ibu kandung membeberkan firasat buruk yang dialaminya. FT : Ist

seputarankita.com – Tabir gelap menyelimuti kasus kematian NS, remaja asal Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, yang meninggal dunia dengan luka melepuh di sekujur tubuh. Lisnawati, ibu kandung korban, kini angkat bicara dan mengungkap fakta memilukan terkait dugaan pembiaran hingga rekam jejak kekerasan yang dilakukan mantan suaminya, Anwar Satibi.

Dalam pengakuannya, Lisnawati yang kini menetap di Cianjur, mengaku sempat berkomunikasi melalui sambungan video saat kondisi NS sudah memprihatinkan. Namun, upaya untuk menyelamatkan nyawa anaknya justru terbentur oleh sikap dingin sang mantan suami.

Sebelum mendengar kabar duka, Lisnawati mengaku merasakan firasat buruk berupa sesak napas dan perasaan tidak tenang. Kekhawatirannya terbukti saat ia melihat kondisi NS yang sudah terbaring lemah dengan luka memar di bagian mata.

“Saya langsung syok lihat kondisinya. Saya tanya kenapa tidak segera dibawa ke rumah sakit, jawabnya (Anwar Satibi) saat itu dia sedang sibuk. Di situ saya sangat sakit hati,” ungkap Lisnawati dengan nada getir, Senin (23/02/2026).

Lisnawati juga mengungkap fakta pedih bahwa dirinya telah dipisahkan dari NS selama lima tahun. Menurutnya, Anwar Satibi diduga sengaja memutus komunikasi dan membohongi korban dengan mengatakan bahwa ibu kandungnya telah meninggal dunia di luar negeri.

Kecurigaan Lisnawati terhadap adanya unsur kekerasan bukan tanpa alasan. Ia membeberkan bahwa selama membina rumah tangga, Anwar Satibi kerap melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), bahkan saat dirinya tengah mengandung NS.

“Itu alasan saya minta cerai. Saat melahirkan pun saya di-KDRT, bahkan rambut saya pernah dipotong menggunakan golok,” jelasnya. Atas dasar pengalaman kelam tersebut, Lisnawati kini menuntut keadilan dan mendesak polisi menyelidiki adanya unsur pembiaran yang menyebabkan nyawa anaknya tak tertolong.

BACA JUGA:  Maut Menjemput di Sore Hari, Pemuda 29 Tahun Tewas Usai Tabrakan Hebat di Pantai Ujunggenteng

Di sisi lain, Anwar Satibi enggan berkomentar banyak terkait tudingan mantan istrinya tersebut. Ia justru memberikan klarifikasi mengenai postingan permintaan donasi di media sosial yang sempat memicu polemik.

“Postingan donasi itu ditujukan untuk teman-teman saya, dan sekarang sudah saya hapus,” ujar Anwar singkat.

Kasus ini pun memicu reaksi keras dari publik. Warga Jampangkulon mendesak pihak kepolisian agar tidak hanya fokus pada TR (ibu tiri korban), tetapi juga mendalami peran Anwar Satibi terkait dugaan pembiaran dan latar belakang kekerasan yang diungkapkan ibu kandung korban.

“Pernyataan Lisnawati soal rekam jejak KDRT ini harus diusut tuntas. Polisi perlu melihat apakah ada pola kekerasan yang berulang dalam keluarga tersebut,” tegas Ikhsan, salah seorang warga setempat.(Bim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *