seputarankita.com – Duka mendalam menyelimuti warga Perumahan Griya Sukalarang Asri, Desa Sukamaju, Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi. Seorang buruh pabrik sepatu, Apni Novianti (29), ditemukan tewas mengenaskan setelah rumahnya tertimbun material tanah longsor pada Kamis (16/4/2026) sore.
Korban yang merupakan tulang punggung keluarga tersebut ditemukan oleh tim evakuasi gabungan di area kamar mandi rumahnya dalam kondisi tak bernyawa.
Kepergian Apni menyisakan kepedihan mendalam bagi kerabat dan keluarga. Berdasarkan penuturan pihak keluarga di RSUD Syamsudin SH, ada kondisi yang tidak biasa pada hari nahas tersebut. Biasanya, korban baru sampai di rumah pada malam hari karena tuntutan pekerjaan di salah satu pabrik sepatu di wilayah Sukalarang.
“Sudah dua hari ini almarhumah pulang lebih awal karena di pabrik sedang ada penurunan produksi. Biasanya sore hari dia belum ada di rumah,” ujar salah satu kerabat korban dengan nada lirih, Jumat (17/4/2026).
Siapa sangka, kebijakan perusahaan yang memulangkannya lebih cepat justru menempatkan Apni di lokasi kejadian saat bencana datang menjemput.
Bencana bermula saat hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Sukalarang sejak siang hari. Tebing setinggi 10 meter di sekitar pemukiman tersebut diduga tidak mampu lagi menahan resapan air hingga akhirnya runtuh dan menghantam bangunan rumah korban.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Eki Radiana Rizki, menjelaskan bahwa proses evakuasi melibatkan unsur TNI, Polri, dan para relawan. “Korban ditemukan meninggal dunia di area kamar mandi. Setelah berhasil dievakuasi, jenazah langsung dibawa ke RSUD Syamsudin SH,” ungkap Eki.
Selain di Sukalarang, BPBD mencatat cuaca ekstrem juga memicu bencana serupa di Kecamatan Jampangtengah dan Nagrak. Eki pun mengeluarkan imbauan keras kepada warga yang tinggal di kawasan rawan bencana, khususnya di bawah tebing atau lereng perbukitan.
“Kami meminta warga untuk segera mengungsi sementara jika hujan deras kembali turun. Kewaspadaan harus ditingkatkan karena potensi hujan dengan intensitas tinggi masih sangat mungkin terjadi,” tegasnya.
Kini, jenazah Apni telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Musibah ini menjadi pengingat pahit akan kerawanan bencana di wilayah Sukabumi saat musim penghujan ekstrem melanda.





