seputarankita.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi menerbitkan peringatan kewaspadaan menyusul temuan 23 kasus penyakit campak yang tersebar merata di tujuh kecamatan. Meski angka ini belum masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB), kecepatan transmisi virus menjadi sorotan utama otoritas kesehatan setempat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Ida Halimah, mengonfirmasi bahwa seluruh kasus tersebut tercatat dalam kurun waktu tiga bulan pertama di tahun 2026. Ia menekankan bahwa karakter virus campak yang sangat menular menuntut respons cepat dari masyarakat.
“Hingga saat ini terdata 23 pasien positif campak. Kami sangat mewaspadai ini karena pola penyebarannya relatif sangat cepat dibandingkan penyakit menular lainnya,” ujar Ida saat memberikan keterangan kepada media.
Didampingi Kepala Bidang P2P, Denna Yuliavina, Ida menjelaskan bahwa kunci utama penanganan campak adalah deteksi dini. Masyarakat diminta tidak meremehkan gejala awal yang menyerupai flu biasa.
Ada beberapa tanda klinis yang perlu diwaspadai,
Demam Tinggi Suhu tubuh meningkat drastis secara mendadak, Gangguan Pernapasan Disertai batuk-batuk dan seringkali mata merah, Ruam Khas Munculnya bintik-bintik kemerahan (ruam) pada permukaan kulit setelah beberapa hari demam.
“Jika gejala-gejala ini muncul, jangan ditunda. Segera lakukan isolasi mandiri untuk memutus rantai penularan dan segera berobat ke Puskesmas terdekat,” tegasnya.
Dinkes Kota Sukabumi kini menggencarkan sosialisasi masif di tingkat akar rumput. Selain mendorong pemenuhan imunisasi dasar lengkap bagi anak-anak, Ida juga mengingatkan kembali pentingnya protokol kesehatan dasar.
Beberapa langkah preventif yang ditekankan antara lain, Imunisasi Perlindungan paling efektif untuk mencegah gejala berat, Protokol Kesehatan Rutin mencuci tangan dan menggunakan masker, terutama di keramaian, Gaya Hidup Menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), olahraga rutin, dan konsumsi makanan bergizi untuk menjaga imun tubuh.





