Miris, Siswa MI Lengkong Harus Nyebur Sungai Demi Sekolah Setiap Pagi

Miris, Siswa MI Lengkong Harus Nyebur Sungai Demi Sekolah Setiap Pagi
Puluhan Siswi MI Lengkong harus menyebrrangi sungai di pagi buta untuk sampai sekolah / FT: Ist

seputarankita.com – Pemandangan memilukan terjadi di Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi. Sejumlah siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) terpaksa menyeberangi Sungai Cikaso setiap pagi hanya untuk sampai ke sekolah.

‎Tanpa jembatan penghubung, mereka berjalan berbaris meniti dasar sungai yang dangkal dengan pakaian seragam basah kuyup.

‎Video yang merekam kejadian itu viral di media sosial, memperlihatkan anak-anak berusia 7 hingga 12 tahun melangkah hati-hati di tengah arus sungai.

‎Beberapa guru dan warga tampak membantu dari tepi sungai agar para siswa tidak terpeleset.

‎Lokasi kejadian diketahui berada di Kampung Cikaler, Desa Tegallega, menuju sekolah di Kampung Tegaldatar, Desa Neglasari, Kecamatan Lengkong.

‎Jembatan beton yang menjadi akses utama warga dua desa dan tiga kecamatan Lengkong, Pabuaran, dan Jampangtengah ambruk sejak Desember 2024 lalu akibat diterjang banjir bandang Sungai Cikaso.

‎Hingga kini, hampir setahun berlalu, jembatan tersebut belum juga diperbaiki. Akibatnya, aktivitas warga lumpuh, dan anak-anak sekolah terpaksa menantang bahaya setiap hari.

‎Dalam video yang beredar, seorang siswi bernama Aisyah dengan polos menyampaikan harapan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, agar segera membangun kembali jembatan tersebut.

‎“Pak Dedi, saya dan teman-teman lewat sungai karena jembatannya rusak. Tolong dibangun lagi jembatannya,” ucapnya dengan logat khas Pajampangan, Semin, 20 Oktober 2025.

‎Warga sekitar mengaku sudah berulang kali melaporkan kondisi jembatan yang putus itu kepada pihak pemerintah daerah, namun hingga kini belum ada kejelasan tindak lanjut.

‎Sementara itu, setiap kali hujan turun dan debit air naik, orang tua hanya bisa cemas menunggu anak-anak mereka pulang sekolah dengan selamat.

‎Bencana banjir bandang yang menghancurkan jembatan Tegaldatar itu sebelumnya juga menelan sembilan korban jiwa dan merusak ribuan rumah di wilayah selatan Sukabumi.

‎Kini, hampir setahun setelah peristiwa tersebut, harapan masyarakat hanya satu yaitu agar akses penghubung antar-desa itu segera dibangun kembali, demi keselamatan dan masa depan anak-anak mereka. UM

BACA JUGA:  Sukabumi Dilanda Angin Kencang, BPBD Berjibaku Amankan Lokasi Pohon Tumbang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *