seputarankita.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi tumpuan perbaikan gizi generasi muda di Kota Sukabumi kini tengah dihantam badai miring. Anggota DPRD Kota Sukabumi, Inggu Sudeni, mengungkap adanya indikasi “permainan” oknum Satuan Pelayan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang nekat menurunkan standar kualitas makanan demi meraup keuntungan pribadi.
Kritik tajam ini mencuat ke publik setelah legislator dari Fraksi PKS tersebut menerima banjir aduan dari masyarakat yang merasa iba dengan menu yang diterima para siswa, terlebih di tengah pelaksanaan ibadah puasa Ramadan 1447 H.
Melalui pernyataan resminya, Inggu menyoroti ketimpangan antara anggaran yang dialokasikan dengan realitas makanan di lapangan. Ia mensinyalir adanya oknum di tingkat distribusi yang mencoba mengambil celah dari jatah per porsi yang sudah ditentukan.
“SPPG itu sudah mendapatkan bagian Rp2.000 per porsi. Tolonglah, hak anak-anak jangan diambil juga,” tegas Inggu dengan nada gusar melalui unggahan media sosial pribadinya, Selasa (24/2/2026).
Pernyataan tersebut bukan sekadar gertakan. Inggu mengaku telah mengantongi puluhan bukti berupa foto dan video yang memperlihatkan menu MBG jauh dari kata layak. Salah satu temuan yang paling mencolok adalah kemasan makanan yang tidak higienis—plastik pembungkus yang lengket akibat tumpahan cairan, yang dinilai mencerminkan buruknya profesionalisme kerja.
Kondisi ini, menurut Inggu, seolah menjadi tren penurunan kualitas yang merata di wilayah Sukabumi selama bulan Ramadan. Minimnya pengawasan membuat standar gizi dan kebersihan seolah terabaikan, sehingga program nasional ini terkesan hanya dijalankan sebagai proyek formalitas belaka.
Sebagai Ketua Bapemperda Kota Sukabumi, ia menegaskan bahwa hak gizi siswa harus dilindungi dari praktik-praktik “nakal” oknum lapangan.
“Jangan sampai program mulia ini mencederai kepercayaan masyarakat. Kita butuh asupan gizi yang nyata, bukan sisa-sisa potongan anggaran,” tambahnya.
“Program MBG harus kembali ke khitahnya, memberikan asupan terbaik bagi generasi penerus tanpa adanya pemotongan yang merugikan anak sekolah,” pungkas Inggu.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat menunggu respons cepat dari Pemerintah Kota Sukabumi untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dialokasikan benar-benar berubah menjadi nutrisi di piring anak-anak, bukan menguap di kantong para oknum.(Bim)





