Seputarankita.com – Kisah pilu Siti Lestari (21), warga Kampung Cipicung, Desa Sukajaya, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Ibu muda yang hamil 9 bulan nyaris menjadi korban tertimbun tanah longsor saat bencana menerjang kampungnya.
Peristiwa tragis yang menimpa Siti Lestari saat bencana terjadi, Rabu 4 Desember 2024 lalu.
Saat ini dia terpaksa mengungsi dirumah mertuanya di Kampung Cikopeah. Peristiwa bencana itu sama sekali diluar perkiraan termasuk warga dan kerabat di Kampung Cipicung.
Siti Lestari mengisahkan, saat terjadi longsor, menimbun semua rumah dan barang miliknya, termasuk persiapan melahirkan dan calon bayinya, tengah berada dalam rumah.
Secara mengejutkan kata dia tiba-tiba terdengar suara gemuruh tidak jauh dari pemukiman warga. Hanya kurang dari beberapa detik tiba-tiba sang suami teriak keluar dari rumah.
“Saat longsor lagi dalam rumah lari loncat keluar dari rumah. Suami ada diluar rumah manggil-manggil saya nyuruh keluar, tapi perut tidak terasa sakit,” katanya.
Beruntung saat material tanah menggerus seluruh rumah berserta perabot rumah, kata Siti Lestari, beserta suaminya berhasil lar menjauh titik lokasi bencana.
“Kalau tidak, saya dan suami tertimbun tanah longsor. Kini hanya menyisakan pakaian yang menempel ditubuhnya,” katanya. Bahkan saat mengungsi pun, kata dia tidak pakai alas kaki. Mereka berjalan 2 hingga 3 kilometer, diantar banyak orang.
“Saya dibopong sama suami, pakaian hanya dipakai doang, ga pakai kerudung, ga pakai sandal, pakai dirumah habis tertimbun longsor, kejadiannya pagi,” katanya
Untuk persiapan persalinan, Siti Lestari dan keluarganya masih bingung, lantaran masih berada di lokasi pengungsian.
Tidak hanya itu lokasinya jauh dari pemukiman pendudukan dan akses di kampung lain, harus melalui pematang sawah. Sementara akses jalan menuju ke Pemerintah Desa Sukajaya, maupun puskesmas, tidak bisa dilintasi kendaraan.
Lokasinya, kini tertimbun longsor dan jalan amblas akibat pergerakan tanah. “Ga tahu, mau lahirannya disini dirumah karena keadaan sekarang,” katanya.
Siti Lestari mengisahkan, saat rumahnya diterjang longsor dan mengungsi kondisi hamil tua, harus menempuh jarak 2 kilometer.
“Menyeberang sungai pertama dari kampung Cipicung nyeberang di Cigeleduk karena sungainya terlalu besar nyeberang jembatan bambu lumayan licin, sedangkan sungainya 5 meter, airnya gede,” katanya.





